New normal, sebagaimana dipromosikan sebagai bentuk kehidupan yang baru, memposisikan interaksi virtual sebagai alternatif dari keterbatasan kita untuk berinteraksi secara normal. Sayangnya, dalam konteks platform, konsep new normal dalam ranah sosial tidak menawarkan sesuatu yang kebaruan. Karena penggunaan Internet untuk berkomunikasi tetap menggunakan platform-platform normal yang kita temui sehari-hari. Platform yang tersentralisasi pada perusahan-perusahan raksasa monopoli teknologi Internet; sebut saja Facebook, Instagram, Google, dan Zoom.
Platform-platform ini dalam penggunaannya tidak berdasar pada kebebasan kepemilikan data, dalam artian, ketika kita berinteraksi di dalamnya, proses mediasi interaksi kita harus melalui teknologi sentral yang memantau data kita. Interaksi sosial kita menjadi data statistik bagi mereka. Hari ini orang dengan sangat sadar memberikan kuasa mereka terhadap platform Internet yang dimiliki secara sentral tanpa mencoba untuk mencari alternatif dari Internet yang lebih desentral.
DarkNet dikenal sebagai sebuah jaringan internet lain yang menyeramkan dengan paradigma sebagai tempat penuh mitos. Berawal dari pemikiran spekulatif tentang bagaimana sebuah tempat yang dirancang untuk menjadi pusat anonimitas para pengguna malah dikenal sebagai sebuah tempat penuh kecemasan. Ada ketakutan yang dimitoskan disitu, atau mungkin ketakutan-ketakutan yang dimanufaktur dalam skala masif—menyerupai fiksi—untuk sebuah kepentingan yang lebih besar. Bagaimana jika mitos tentang di DarkNet yang sekarang menjadi urban legend itu adalah buatan pemegang kekuasaan untuk sebuah alasan agar yang lebih lemah tidak bisa menjadi invisible?
Bagi yang ingin mengakses karya, silahkan kirimkan surel dengan tajuk, “Saya ingin masuk ke dalam layar Bawang” ke [email protected]
Profil Seniman
Natasha Tontey adalah seorang seniman yang berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Natasha tertarik dengan eksplorasi fiksi sebagai metoda untuk berspekulasi. Melalui praktik artistiknya, ia mengemukakan sejarah dan mitos seputar ‘manufaktur ketakutan’ sebagai kisah fiksi dan melihat bagaimana hal itu mendeterminasi ekspektasi akan masa depan.
Karyanya telah dipamerkan secara internasional di Next Wave Festival (Melbourne, 2016), Koganecho Bazaar (Yokohama, 2015), Indonesian Dance Festival (Jakarta, 2018), Instrument Builder Project: Circulating Echo di Kyoto Art Centre (Kyoto, 2018), Other Futures: Multispecies Experiment (Amsterdam 2019), Contemporary Art Tasmania (Hobart, Tasmania 2019), Polyphonic Social 2019 (Melbourne, 2019), Tricks of the Mouth di Carriageworks (Sydney, 2019) dipresentasikan bersama dengan Liquid Architecture, K4 Gallery of Video and Moving Image (Oslo, Norway, 2019), The Wrong Biennale for Digital Arts (Internet, 2019) dan ONCURATING Space (Zurich, Switzerland, 2019).
Awal tahun 2020 ini Ia mendapatkan HASH Award 2020 for Net-Based Projects in the Fields of Art, Technology, and Design dari Zentrum für Kunst (ZKM) und Medien Karlsruhe dan Akademie Schloss Solitude.