Konsep Karya
Dalam karya yang berjudul SCAR ini, kami tertarik untuk mengolah bekas luka sebagai titik tolak. Tubuh menyimpan berbagai sejarah termasuk trauma, baik secara fisik maupun yang tidak terlihat. Bekas luka sebagai jejak sejarah di tubuh menarik untuk kami lihat sebaga pintu masuk ke berbagai lapisan peristiwa: personal hingga komunal, fisik dan psikis, emosional atau spiritual. Dari bekas luka yang dimiliki seseorang, sejarah apa yang tersimpan disitu? Narasi apa yang tersembunyi? Trauma macam apa yang dipendamnya? Bekas luka bagi setiap orang memiliki makna yang berbeda. Keberagaman itu yang kami coba jelajahi melalui pendekatan gerak tubuh penari dan mata kamera (zoom/close-up shots).
Bekas luka ini, bisa menjadi trauma yang menyakitkan, menyenangkan atau menjadi sisi gelap yang tidak ingin diungkit. Penjelajahan kami bukan terfokus pada pengungkapan sejarah bekas luka itu, melainkan pada penjelajahan atas efek ketubuhan yang ditimbulkan. Dalam beberapa kasus, sebuah bekas luka bisa sengaja dibanggakan untuk tujuan tertentu; memamerkan kekuatan atau keelokan fisik, misalnya. Bekas luka yang terjadi dari ketidaksengajaan menimbulkan reaksi yang berbeda pada tubuh. Pada bagian ini, penjelajahan gerak akan berangkat pada upaya tubuh dalam memamerkan atau menutupi bekas luka serta reaksi dan peristiwa yang ditimbulkannya.
Melalui pendekatan biografis, penjelajahan atas bekas luka akan berangkat dari jejak yang dimiliki oleh tim kerja dalam produksi (penari, koreografer dan tim produksi) ini serta beberapa narasumber yang dianggap relevan. Pelacakan dan pembacaan terhadapnya akan menjadi pijakan eksplorasi gerak dan koreografi serta materi visual (kamera video & foto). Dengan adanya teknologi kamera digital memungkinkan karya ini menghadirkan image bekas luka yang detail di kulit seseorang untuk menjadi bahan eksplorasi dan materi visual panggung.
Profil Seniman
Pebri irawan. Bermula dari menjadi mahasiswa jurusan tari di institut seni Indonesia Yogyakarta beberapa pemantasan karya tarinya pernah ditampilkan di SETOUCHI TRIENNALE- Asia Art Platform (2019), “Ekspresi tari virtual” Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan kebudayaan indonesia (2020), “Cabaret Chairil”, Teater Garasi (2019), “ Soft Opening Art Jog” (2018). Sktor dan dan penampil pada the 9th theatre Olympics, Platform Perfomance event of Suzuki Company Of Toga(2019).) Menjadi aktor dalam “I Lagaligo” theater oleh Robert Wilson. Sekarang belajar di Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta.