Konsep Karya
“Menjadi” perempuan adalah proses perpetual alih-alih statis dan absolut. “Menjadi” perempuan tidak berhubungan dengan pola tumbuh kembang seseorang secara linier. Sebaliknya, “menjadi” perempuan berhubungan dengan situasi tubuh yang mengalami proses kreatif dan menemukan fungsi baru. “Menjadi” perempuan bukan tentang awal dan akhir, melainkan ia hadir di tengah- tengah suatu proses.
Soping San Laura merupakan eksplorasi-nyaris-fiksi Riskya Duavania berkolaborasi dengan Mimzy tentang pasar loak sebagai ruang aman bagi transpuan di tengah masyarakat heteronormatif yang masih menganggapnya tabu. Di pasar loak ini terdapat seri karya yang membicarakan proses transformasi atau “menjadi” perempuan dalam tubuh seorang transpuan. Soping San Laura dibangun atas imajinasi dari sebuah tempat bernama Pasar Loak Soping yang terletak di tengah Kota Salatiga. Cik San, seorang pelapak transpuan yang juga berjualan di sana akan menjadi subjek utama dalam Soping San Laura. Melalui medium televisi, Cik San akan menuturkan kisah transformasinya dalam seri karya “door-to-door” di mana ia melihat tubuhnya hanya sebagai moda produksi, hingga bertransformasi di dua alam atau disebutnya Laura (Lanang ora Wedok Ora atau laki-laki bukan perempuan bukan) dalam karya “Becoming- Imperceptible”. Selain itu, penilaian atas dunia yang fiktif dibangun melalui rangkaian poster karya Mimzy serta eksplorasi taktil atas materi visual Pasar Loak Soping di Salatiga.
Dikarenakan situasi PPKM, pasar loak sedang tutup sehingga beralih wahana ke daring menggunakan situs web (https://sopingsanlaura.space/). Secara interaktif, Soping San Laura mencoba memberikan pengalaman pasar loak walaupun tidak akan bisa menghadirkan perasaan yang sama dengan berkunjung secara langsung. Sebaliknya, situs ini diharapkan dapat menjadi refleksi bagi penontonnya sembari merapal mantra untuk dunia yang lebih inklusif dan berharap pandemi segera pulih.
Profil Seniman
Riskya Duavania atau Riri (lahir 1999) adalah seorang mahasiswa film yang tinggal di Jogja. Selama proses belajarnya, Riri banyak mengeksplorasi medium dokumenter untuk membicarakan ketertarikannya pada memori kolektif dan fenomena identitas gender. Selain berkarya, Riri juga terlibat di organisasi Forum Film Dokumenter serta kolektif transpuan bernama Transgirl Up.
Proses risetnya dalam mencari ruang aman bagi transpuan dimulai dengan bertemu ibu Rully Malay dan Rere di tahun 2020. Kemudian di tahun 2021 Riri dipertemukan dengan Jessica Ayudya Lesmana, yang selanjutnya memperkenalkan kolektifnya bernama Transgirl Up. Di kolektif itulah Riri bertemu dengan Mimzy dan Gigi. Setelah sebulan lebih berdiskusi dengan Transgirl Up telah membuka mata Riri mengenai isu transformasi tubuh waria yang masih dianggap tabu oleh masyarakat heteronormatif. Di pameran Asana Bina Seni kali ini, Riri berkolaborasi dengan Mimzy menampilkan Soping San Laura. Mereka mengangkat kisah transformasi seorang pelapak transpuan bernama Cik San sambil mengimajinasikan ruang aman yang inklusif terhadap transpuan.
Mimzy (lahir 1995) seorang Trans Non Binary yang saat ini bekerja di bidang media kreatif khususnya di pengolahan grafis. Pada tahun 2020 awal zine “Aksara” menjadi projek awalnya menyusun dan mendesain zine untuk gabungan kolektif perpustakaan jalanan di Taman Suropati, Jakarta. Selain bekerja, Mimzy juga secara aktif tergabung di kolektif Transgirl Up. Di tahun ini, Mimzy bersama Riskya Duavania menampilkan “Soping San Laura” yang menceritakan pengalaman sisterhood Cik San dan Mimzy di pasar loak. Cik San melalui koleksi barang bekas menghasilkan penciptaan kreatif sebagai transpuan di tengah masyarakat. Imaji dan pengaktualisasian diri di dalam seri karya ini mengandung harapan akan dunia yang lebih inklusif khususnya untuk transpuan.