Baur Lebur
Seniman : Awi Nasution
300 cm x 100 cm
Variable Dimensions Photograph
2023
Kurator: Samuel Bonardo
Baur Lebur: Bungkus yang Larut
“Aku ini orang apa? Dibilang Batak gak bisa Bahasa Batak, dibilang Jawa juga sama. Kenapa orang tuaku gak ajarin Bahasa Batak? Kenapa Akung atau Uti gak ajarin Bahasa Jawa? Kenapa Uti gak bisa Bahasa Batak lagi? Kenapa bukan Akung yang belajar Bahasa Batak, tapi malah Uti yang harus jadi Jawa? Padahal Uti tinggal di tanah kelahirannya, Tanah Batak.”
Sejak merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi seni rupa, Awi berusaha mendefinisikan ulang dirinya. Ia mewarisi nama belakang dan darah Batak, makan dan dibesarkan dengan budaya Jawa di rumah Akung–kakeknya, sekaligus lahir dan tumbuh di Tanah Melayu–Pekanbaru, Riau. Budaya yang beragam saling menjalin membuat identitas yang Awi hidupi tidak mudah dilabeli.
Melalui bingkai ini krisis identitas dilihat sebagai gejala dari fenomena yang lebih besar tentang displacement, ketercerabutan, yang dialami banyak dari kita. Di atas itu, gejala ini memancing kontemplasi tentang apakah identitas itu sesuatu yang secara alamiah kita lahiri, atau sesuatu yang secara konstruktif kita hidupi? Kenapa identitas mengurung dan memisahkan? Salah satu buah kontemplasi dari kegelisahan tentang krisis identitas itu berhasil diartikulasikan oleh Awi dengan mewujudkan karya fotografi sulih medium berjudul Baur Lebur.
Yogyakarta adalah asal dari orang tua Akung berasal. Di sini hampir semua orang bisa Bahasa Jawa. Termasuk Awi, sejak tahun pertama tinggal di Sewon ia mudah terbiasa hingga lancar berbahasa Jawa. Sampai pada tahun ketiga Awi pulang ke rumah Uti dengan rasa rindu. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah baliho di salah satu jalan arteri Kota Pekanbaru bertuliskan “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” khas Bangsa Melayu. Melihat itu memantik pertanyaan Awi tentang budaya Jawa dan pengaruh politisnya. Bagaimana orang Jawa di Sumatra tetap berbahasa Jawa, namun orang Sumatera ke Jawa akan secara spontan beradaptasi dengan Bahasa Jawa?
Gayung bersambut, kata terjawab. Bertemu dengan Uti, neneknya, waktu kepulangannya yang lalu menyadarkan Awi bahwa pengalaman krisis identitasnya tidak mungkin dialaminya sendiri. Uti lahir sebagai boru Harahap, besar, hingga menikah dengan Akung di Tanah Batak. Di awal pernikahannya, Uti harus membiasakan diri hidup dalam budaya Jawa di keluarga Akung. Hingga akhirnya mereka hijrah ke Pekanbaru. Sejak Awi lahir 21 tahun yang lalu, Uti sudah tercerabut dari bahasa ibunya dan lebih fasih bicara Bahasa Jawa. Kesadaran ini akhirnya menginspirasi Awi membuat karya kali ini.
Deretan pigura di dinding dan album foto hasil hobi Akung, menunjukkan rekaman tentang Uti dan keluarga. Awi yang kini sedang belajar seni grafis memanfaatkan arsip di rumah untuk eksplorasi teknik cetak foto water decal. Teknik ini menghasilkan kesan mengalir, melebur, dan membaur dari gambar-gambar yang dicetak mengatasi permukaan tidak lazim, melampaui batas bingkai.
Gambar-gambar yang tercetak di sini membingkai kelindan fenomena sosial dan politik yang terjadi selama masa hidup Akung menemani Uti. Mulai dari refleksi tentang dominasi budaya Jawa yang didukung pemerintah sejak sebelum kemerdekaan, lalu tentang ekspektasi patriarki yang mencerabut perempuan dari budaya masa kecilnya untuk mengikuti suami, hingga kembali ke pertanyaan awal tentang kontemplasi soal identitas itu sendiri. Namun lebih dari itu, kesemua gambar yang ada adalah bukti cinta. Cinta antar manusia, cinta yang lepas dari sekat adat dan budaya, cinta yang melampaui batas waktu dan generasi, cinta yang karena terekam secukupnya, jadi indah selamanya.
Profil Seniman : Awi Nasution
Awi Nasution adalah seorang seniman asal Pekanbaru, Riau. Dia sering menggunakan fotografi ataupun videografi sebagai medium berkarya. Awi terjun ke dunia seni setelah masuk ke ISI Yogyakarta sebagai mahasiswa seni rupa murni dengan konsentrasi seni grafis. Saat ini, Awi mendalami fotografi dengan pendekatan seni grafis.