Turun Temurun
Seniman : Matrahita
300 cm x 500 cm
Instalasi Tekstil
2023
Kurator: Ima Gusti
Turun Temurun
Mendongeng merupakan bagian dari tradisi lisan yang terus dilanggengkan dan sudah menjadi salah satu budaya turun temurun oleh bangsa Indonesia. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Danandjaja (1984), dituliskan jika folklor (folklore) atau cerita rakyat adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif (kumpulan masyarakat) yang tersebar dan diwariskan turun-temurun secara tradisional. Matrahita mengangkat folklor atau cerita rakyat sebagai karya dengan dilandasi narasi pribadi seniman. Karya ini mencoba untuk kembali memproyeksikan imaji dari sulaman memori seniman akan pengalaman dibacakan dongeng oleh orang tua sebelum tidur. Menurut Bachri (2005), mendongeng yakni menuturkan sesuatu yang mengisahkan bab perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Bukan sekedar bersifat menghibur, kegiatan mendongeng juga memiliki tujuan di mana salah satunya ialah mengembangkan imajinasi yang wajar kepada anak serta sarana pembelajaran akan norma dan nilai sosial (Priyono. 2001). Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan faktor kesibukan yang semakin meningkat tradisi mendongeng mulai banyak ditinggalkan orang. Gawai dinilai lebih menarik perhatian dibanding mendongeng. Karya ini harapannya dapat menyampaikan pentingnya melestarikan tradisi lisan yang kita miliki sebagai sarana transfer materi pengetahuan terhadap generasi muda.
Berbentuk instalasi tekstil, karya dari Matrahita dengan judul Turun-temurun hadir sebagai penggambaran nuansa Timun Mas dalam imaji seniman saat didongengi oleh bapak semasa kecil sebagai tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang. Pakaian yang umumnya bersifat diberikan atau diturunkan dari generasi ke generasi atau akrab juga disebut lungsuran merupakan material inti dari karya ini. Limbah tekstil dari pakaian tak terpakai diubah menjadi rupa elemen-elemen yang ada dalam cerita rakyat tersebut. Matrahita mengajak pengunjung untuk kembali mengaktifkan imaji masa kecil melalui cerita Timun Mas versi mereka. Di dalamnya terdapat banyak bunga-bunga timun lengkap dengan sulur-sulur dari tanaman timun yang merupakan tumbuhan merambat. Dalam instalasi ini terdapat sebuah pojok baca yang menyediakan berbagai bacaan mengenai folklor. Hal ini ditujukan sebagai pengalaman interaksi langsung audiens dengan karya, mengajak untuk kembali membuka lembaran kenangan melalui literatur yang disediakan.
Dalam karya kali ini penggunaan tekstil bekas pakai juga diartikulasikan sebagai upaya penyelamatan bumi seperti pengilhaman seniman akan cerita Timun Mas yang erat kaitannya dengan isu ekologi. Sumber utama tekstil dalam limbah yang digunakan dalam karya adalah pakaian bekas, meskipun ada sumber lain yang lebih kecil termasuk furnitur, karpet, alas kaki, dan barang tidak tahan lama lainnya seperti seprei dan handuk. Pemilihan tekstil bekas ini juga didasari dari data riset yang dilakukan oleh YouGov dalam thinkconscious.id mencatat bahwa 66% orang dewasa Indonesia membuang setidaknya satu pakaian mereka dan 25% membuang lebih dari 10 pakaian mereka dalam setahun. Belum lagi, 41% generasi milenial Indonesia merupakan konsumen terbesar produk fast fashion.
Isu lingkungan telah menjadi isu penting di masyarakat dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai kebijakan politik, ekonomi, sosial, dan budaya didorong oleh tindakan berdasarkan wawasan lingkungan. Cerita rakyat Indonesia sebenarnya sudah banyak menyinggung isu lingkungan. Oleh karena itu, cerita Timun Mas yang erat kaitannya dengan isu ekologi menjadi inti dari karya ini. Setyowati et. al. (2020) menuliskan dalam penelitiannya bahwa dalam cerita Timun Mas terdapat temuan tentang refleksi naratif ekologis terhadap kerusakan ekosistem berikut ini: (A). Pencemaran lingkungan; (B). Perusakan habitat; (C). Pengelolaan alam. Cerita rakyat yang tersebar di seluruh nusantara memiliki pandangan ekologis yang sangat relevan dengan kelestarian lingkungan. Fakta ini memberikan rekomendasi penting bahwa sikap terhadap lingkungan harus diselaraskan dengan sikap berpihak pada kepentingan individu dan kelompok. Manusia memiliki tanggung jawab moral tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain dan lingkungan. Tanggung jawab moral merupakan suatu keniscayaan dalam tindakan manusia saat ini dan nanti.
Profil Seniman Kolektif : Matrahita
Matrahita merupakan sebuah kolektif seni yang dianggotai oleh Kemala Hayati, Hafizh Hanani, dan Shidqi Al Harris di kota Yogyakarta, Indonesia. Berdiri pada tahun 2019, Matrahita pada awalnya merupakan sebuah brand merchandise yang menjual beberapa barang seperti Graphic T-shirt dan thrifting. Pada tahun 2022, kami secara resmi menjadi kolektif.
Matrahita berasal dari dua kata bahasa Sanskerta yaitu Matra yang berarti doa; mantra (mampu menciptakan perubahan) dan Hita yaitu kebaikan. Yang jika digabungkan berarti “Sebuah doa untuk kebaikan”. Dengan mengusung gagasan tersebut, kami berharap dapat menjadi wadah atau tempat yang ramah untuk dapat belajar dan bereksplorasi dalam berkesenian tidak hanya kepada para anggotanya namun juga kepada masyarakat secara umum.
Misi kami yaitu dapat mengedukasi dan bermanfaat lewat penciptaan karya seni dan lokakarya. Pada saat ini kami berfokus menggunakan media yang ramah lingkungan (eco friendly) dengan memanfaatkan kembali limbah kain yang ada disekitar kita.