Pameran Asana Bina Seni Yayasan Biennale Yogyakarta resmi dibuka pada 25 Juli 2021. Pada pameran yang bertajuk Mantra kali ini, sebelas seniman ikut berpartisipasi—tujuh seniman individual dan empat kolektif. Mantra merupakan sebuah tawaran untuk melihat ulang bagaimana seniman muda melihat situasi terkini berkait dengan pandemi dan tata kehidupan baru. Seniman yang karyanya dipamerkan kali ini sebelumnya berpartisipasi dalam kelas Asana Bina Seni 2021.
Beberapa seniman melihat bagaimana gagasan tentang lokalitas dan isu penting yang muncul pada paruh akhir 2010-an, terutama melihat bagaimana konstruksi identitas yang berada dalam ketegangan tradisi dan kontemporer. Karya-karya ini menjadi upaya dalam menggali pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana manusia berelasi dengan semesta.
Karya dari Artquatic berfokus pada pencarian relasi antara seni rupa dengan kegiatan breeding ikan guppy, yang menggali makna keindahan yang terdapat pada ikan guppy dengan teori-teori estetika seni rupa.
“Latar belakang kami yang dari seni rupa dan juga terjun sebagai penghobi ikan guppy, secara tidak sadar memberikan ketertarikan tersendiri dalam menginterpretasi nilai-nilai artistik yang terkandung pada kedua sisi.” ungkap Siam, salah satu pelaku seni Artquatic.
Berkah Liar menggunakan metode etnografi dan kerja kolaboratif dengan beberapa kolektif lain dalam karyanya. Karya yang berjudul “Kredo Memento” ini menggabungkan unsur audio, instalasi, dan desain grafis. Karya ini mempertanyakan bagaimana manusia urban untuk ikut andil dalam pembentukan identitas ‘lain’ destinasi wisata melalui cinderamata.
Candrani Yulis yang telah beberapa waktu tertarik menekuni isu-isu yang berkaitan dengan komodifikasi jilbab baik sebagai representasi identitas maupun sebagai fenomena industri busana. Karya Candrani yang berjudul “Lalu Kami Memilih”, melihat bagaimana sekarang komoditas agama selalu memiliki ciri karismatik atau sakral dengan ajaran agama, serta syarat dengan makna simbolik. Flying Saroong yang mengolah sarung sebagai “bungkus” sekaligus “medium” dalam menautkan berbagai kontradiksi dan pertarungan identitas, dengan nilai-nilai lokal yang berbeda tetapi terhubung.
Meta Enjelita menilik bagaimana industri massif telah menggantikan sistem perkebunan dan pertanian lokal, dari sebuah lahan penyedia pangan dan menjadi jembatan bagi relasi manusia dengan alam, menjadi lahan-lahan yang diperuntukkan untuk kepentingan industri dan korporat, lalu menciptakan instalasi yang menggambarkan sejarah materialitas. Munif Rafi Zuhdi melintasi objek yang sederhana namun menjadi sangat penting dalam kehidupan kita sekarang ini, yakni tentang sidik jari, yang menunjuk perubahan dalam representasi diri seseorang baik secara formal maupun dalam kehidupan sehari-hari, dan melihatnya dalam kerangka praktik penciptaan karya grafis.
Pebri Irawan memfokuskan karyanya pada pengalaman tubuh atas luka, baik secara psikis maupun fisik, dan membawanya sebagai pijakan untuk membangun gagasan koreografis yang merefleksikan relasi manusia dengan hal-hal yang bersifat traumatis dan cenderung disembunyikan.
“Dari bekas luka yang dimiliki seseorang, kami melihat sejarah apa yang tersimpan disitu, trauma macam apa yang dipendamnya.” tutur Pebri.
Proyek Benggala mempertanyakan tradisi dan lokalitas atas artefak seperti pacul dalam kompleksitas narasinya di masa kini. Raden Kukuh Hermadi merekonstruksi narasi proses deforestasi dan desertifikasi di Gunungkidul yang puncaknya terjadi bersamaan dengan serangan hama tikus pada tahun 1960an.
Rizkya Duavania yang berkolabosari dengan Mimzy menelusuri kehidupan seorang transpuan dari sisi yang berbeda dari narasi arus utama, dengan melibatkan mereka sebagai bagian dari upaya membangun cerita dan bingkai perspektif tentang isu-isu mereka sendiri, di mana film sebagai medium menjadi medium yang memungkinkan adanya kontestasi “gaze” (pandangan) atas upaya representasi. Karya dari Titis Rengganing yang menggunakan shibari sebagai medium untuk mencari nilai baru berkait relasi manusia dengan tubuh, atau menggambarkan relasi sosial yang kompleks dan sekaligus intim melalui budaya shibari yang diolahnya.
****
Pameran Mantra digelar di Taman Budaya Yogyakarta, tepat setelah pintu masuk, pengunjung disuguhi tembok putih yang bertuliskan “MANTRA – Asana Bina Seni”. Sedangkan pada sisi kiri dan kanan yang mengapit pintu masuk, dihiasi dengan tembok warna-warni dan akuarium kecil yang berisi ikan-ikan Guppy yang memamerkan karya dari Artquatic. Beranjak pada sisi kiri venue tepat di sebelah karya Artquatic. Karya dari Flying Saroong yang dominan berwarna putih, dengan kain sarung yang dibungkus dan digantung pada langit-langit. Bersisian dengan karya Flying Saroong, terdapat karya dari Munif. Print out sidik jari yang berjejeran di tembok dengan monitor yang merekam aktivitas Munif dalam memasukkan sidik jari.
Karya dari Raden Kukuh yang bertajuk “Matinya Tanah Firdaus”, terletak tidak jauh dari karya Munif. Karya dari Kukuh ini didominasi oleh arang pada goni, lukisan serta lampu dengan timer. Karya milik Titis Rengganing menggantung tepat di sebelah karya Kukuh. Karya yang berjudul “Terikat Simpul” itu memamerkan tujuh untaian benang yang mengikat benda-benda pada ujungnya. Bersebelahan dengan karya Titis Rengganing, terdapat bilik yang berisikan karya dari Proyek Bengggala. Bilik yang tampak seperti ruang mushola lengkap dengan karpet dan sajadah yang tergelar. Tepat di tengah karpet terdapat cangkul yang tersusun dengan lampu minyak di atasnya.
Jika melangkah sedikit lagi, tepat di dekat pintu exit terdapat karya dari Candrani Yulis. Karya milik Candrani ini terbentuk dari susunan jilbab yang digantung pada kayu dan besi yang berbentuk setengah lingkaran. Berdampingan dengan karya Candrani, ada karya milik Berkah Liar. Karya yang berjudul “Kredo Memento”, adalah sebuah gerobak cinderamata yang berisikan barang-barang seperti brosur, makanan ringan, dan lengkap dengan musik yang khas gerobak cinderamata pada umumnya.
Karya milik Riskya Duavania yang berkolaborasi dengan Mimzy merepresentasikan suasana pasar loak yang tertutup terpal. Pada tembok tertempel stiker-stiker yang biasa ditemui di tembok pasar, menambah kesan pasar loak itu sendiri. Tepat di tengah ruangan pameran, terdapat karya milik Meta yang tersusun pada pilar di tengah ruangan. Jika berbalik dari karya Meta, terdapat sebuah bilik berwarna hitam dengan lubang-lubang di beberapa sisi. Bilik itu adalah milik Pebri yang melakukan performance di dalam bilik dan ‘diintip’ oleh audiens lewat lubang yang ada di balik bilik.
Pameran Mantra ini dibuka untuk umum hingga tanggal 4 Agustus lalu, dengan pengunjung yang dibatasi setiap harinya. Selain dipamerkan langsung, karya kesebelas seniman juga ditampilkan secara online hingga tanggal 25 Agustus.
( Adelina Kurnia Rafica )