Lapo dan Segelas Pengetahuan
Seniman : Kawan Pustaha
531 cm x 518 cm
Instalasi Lapo
2023
Kurator: Ardhias Nauvaly
Lapo dan Segelas Pengetahuan
Ruang publik adalah jalan pintas untuk memahami masyarakat setempat. Dia jadi semacam sampel; miniatur tentang cara masyarakat “beroperasi”. Taman yang hidup mengisyaratkan masyarakat diorganisir oleh administrasi tersentral mulai dari Alun-Alun hingga Stadhuisplein. Gardu yang ramai bisa jadi tanda bahwa orang-orangnya hidup dengan mata awas baik karena banyak maling atau orang asing yang berbahaya. Pun, kedai yang menjamur bisa jadi tanda bahwa yang beroperasi adalah masyarakat dagang ketika interaksi mesti dimediasi oleh “pasar”: camilan dan kopi adalah tiket masuk kepada pergaulan.
Namun kedai tidak sejak mula diperantarai pasar. Lapo atau lapau yang jamak di kawasan Toba awalnya adalah sebidang ruang bagi warga setempat untuk mengasoh usai berladang. Tidak ada komoditas; penganan dan jamuan adalah milik bersama sekalian ruangnya. Namun lapo tidak selamanya cuma-cuma: dia bergeser jadi kedai yang makan-minumnya adalah barang jualan. Pergeseran lapo adalah pergeseran masyarakat. Pada posisinya sebagai clue kebudayaan ini, lapo diselidiki oleh Kawan Pustaha -kolektif perantauan Batak yang fokus mengarsip dan menggali budaya lokal.
Di ruang depan Lifepatch, saban Rabu mereka menggelar BA TUAK BA (Baca Tulis Aksara Batak). Isi acaranya, sesuai namanya. Sengaja memang, judul kegiatannya menyitir lakon yang memang eksis di masyarakat Batak: batuakba atau bertuak. Namun bukan tuak intinya, ya ngumpul itulah. Jawa punya “mangan ora mangan sing penting kumpul”, orang Batak punya “marnonang” atau nongkrong begitu saja.
Salah satu anggota Kawan Pustaha, usai BA TUAK BA yang kesekian, bertanya, “Apa sebenarnya lapo?”. Salah satu anggota lainnya nyeletuk, “Ya, inilah lapo,” sambil menunjuk kursi panjang dan meja dengan orang-orang yang berkumpul membicarakan sesuatu. Rutinitas kelaslah yang kemudian membikin pandangan mereka mampu menembus pekatnya tuak bahwa yang pokok justru yang-tak-benda – (re)produksi budaya.
Jadilah mereka menciptakan karya instalasi pertamanya sejak kolektif ini berdiri. Mengambil judul Lapo dan Segelas Pengetahuan, mereka mengawinkan lapo sebagai ruang dan arsip-arsip pustaha yang diaktivasi. Gelas-gelas dan perabot lainnya hanya wahana untuk menciptakan pengetahuan, mereproduksi budaya. Intensi ideologis ini tercermin dalam wujud artistik arsip-arsip pustaha yang menubuh pada perabot: pada kalender, pada teko, pada taplak meja.
Selain merekonstruksi lapo sebagai ruang berkarya, Kawan Pustaha juga hendak menamatkan stigma kriminalnya. Bila ruang publik jadi cerminan warga, lapo yang kriminal adalah wajah Batak yang beringas dan tidak tahu aturan. Kawan Pustaha tidak menghendaki itu. Dengan atau tanpa tuak, lapo tetaplah lapo. Untuk itu, mereka menempatkan aktivasi ruang sebagai core karya: menulis-membaca aksara hingga bermusik.
Upaya menunjukkan lapo yang ideal di ruang pamer sebenarnya punya potensi untuk mencetak-ulang pandangan kolonial atas etnis. Seabad lalu, “Pameran Kolonial se-Dunia” di Paris (1931) menjadi sampel untuk melihat kolonialisme bekerja. Hindia-Belanda sebagai kolonialis Nusantara membawa etnis-etnis secara utuh ke lapangan pamer dengan corak yang tipikal dan eksotis. Misal, Bali ditunjukkan sebagai sekumpulan primitif yang masih telanjang, belum diracuni pikiran untuk berkuasa; sebuah omong kosong yang nyata.
Begitupun Lapo dan Segelas Pengetahuan. Pada titik ini -memamerkan dan membekukan fragmen kehidupan tertentu- dia mirip dengan yang dilakukan Hindia Belanda seabad lalu di Paris. Namun, pendekatan yang diambil Kawan Pustaha jelas diametral dengan pandangan kolonial. Tidak ada upaya untuk mencetak lapo dan giat warganya sesuai dengan imajinasi yang-di-luar: jejaring pasar, negara, bahkan agama. Mereka menampilkan lapo dengan keberdayaan, bukan dengan kepasrahan objek yang status untuk dikagumi atau diludahi. Lapo, bagi Kawan Pustaha, adalah wajah Batak yang terus berdialog.
Memang, Lapo dan Segelas Pengetahuan, tidak semata menghadirkan manusia dan kegiatannya belaka. Ada intervensi artistik untuk menunjukkan tatanan meja, kursi, dan rak ini adalah lapo, bukan kedai lainnya yang generik. Mereka tampilkan interior dan penempatan yang, setidaknya, mirip dengan lapo-lapo yang mereka riset di Sumatera Utara. Jauh-jauh begitu mereka lakoni sebab kebanyakan lapo di Yogyakarta, tempat mereka bertempat, tidak ada bedanya dengan restoran sehingga tidak punya akar kuat di komunitas setempat.
Bedanya dengan colonial gaze, mereka tidak berniat untuk melap-lap keindahan formal. Visual instalasinya jauh dari kesan eksotik; tidak ada niatan untuk dianggap grande oleh pengunjung. Seperti lapo, yang diinginkan Kawan Pustaha adalah percakapan yang jujur dan kasual. Bukan stigma, bukan mengemis tepuk tangan. Sebaliknya, Lapo dan Segelas Pengetahuan adalah wajah Batak yang bergerak dan berdialog untuk mengingat dan membentuk ulang budayanya.
Profil Seniman Kolektif : Kawan Pustaha
Kawan pustaha adalah kelompok belajar bersama yang diinisiasi oleh sekelompok orang muda batak dan non batak yang tertarik terhadap diskusi seputar Batak, khususnya mengenai pustaha batak atau manuskrip batak.
Inisiatif kolektif ini lahir di Yogyakarta pada bulan Juli 2022. Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah untuk mengajak anak-anak muda menghidupkan kembali budaya literasi mengenai pustaha batak yang semakin dilupakan serta membuka percakapan-percakapan seputar tradisi dan identitas komunitas Batak.
Salah satu program utama kawan pustaha adalah BATUAKBA (akronim dari BAca TUlis Aksara BAtak) dan MARNONANG (akronim dari MARi NONgkrong baraANG). BATUAKBA merupakan bentuk aktivasi paling awal dalam mempelajari isi pustaha batak. Sedangkan MARNONANG adalah percakapan-percakapan saling bertukar informasi satu sama lain untuk memperbanyak pengetahuan apapun seputar batak.
Selain itu, kawan pustaha juga melakukan kegiatan aktivasi yang lain terkait HABATAON (budaya batak) seperti maruninguningan (bermain musik tradisional), karaoke lagu-lagu batak, makan sirih, masak masakan khas batak, dan beragam aktivasi lainnya yang dilaksanakan rutin setiap rabu malam di Yogyakarta. Upaya-upaya ini diharapkan dapat membangun kembali semangat pelestarian budaya batak terkhusus pustaha batak di kalangan orang muda batak baik di Yogyakarta ataupun Indonesia.